Senin, 29 November 2021

Kesungguhan

Keluhuran itu diraih dengan kesungguhan, bukan dengan keturunan

Mungkinkah keturunan tanpa kesungguhan bisa meraih keluhuran?

Berapa banyak hamba sahaya menempati kedudukan orang merdeka,

Dan, berapa banyak orang merdeka menempati kedudukan hamba sahaya


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Minggu, 28 November 2021

Memilih Teman

Dalam hal memilih teman, hendaknya memilih teman yang tekun, wara', memiliki perangai yang lurus, dan mudah memahami. Hendaknya menghindari teman yang pemalas, suka menyia-nyiakan waktu, banyak omong tanpa manfaat, pembuat kerusakan, dan suka memfitnah.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Sabtu, 27 November 2021

Penuntut Ilmu

Asy-Syaikh Al-Imam yang mulia Al-Ustadz Qiwarmuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail Ash-Shaffar Al-Anshari mendiktekan kepada kami sebuah syair milik Abu Hanifah rahimakumullah,

Barangsiapa yang mencari ilmu untuk kehidupan akhirat,

maka dia telah memperoleh karunia kebenaran.

Duhai betapa rugi orang-orang yang mencarinya,

dengan tujuan mencari keutamaan dari para hamba.

Kecuali jika dalam mencari kedudukan itu untuk tujuan amar makruf dan nahi mungkar, melaksanakan kebenaran, dan menguatkan agama, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri dan hawa nafsunya, maka hal itu diperbolehkan sebatas apa yang dengannya bisa menegakkan amar makruf dan nahi mungkar.

Sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk memperhatikan hal tersebut. Sebab, dalam menuntut ilmu itu dia telah mengerahkan banyak pengorbanan, maka jangan sampai tujuannya berpaling kepada dunia yang hina, tidak bernilai, dan tidak kekal.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Jumat, 26 November 2021

Bersyukur

Dalam menuntut ilmu, hendaknya juga meniatkan untuk bersyukur atas kenikmatan yang berupa akal pikiran dan kesehatan badan. Jangan meniatkan untuk mencari kedudukan di hadapan manusia, mencari harta duniawi, atau kemuliaan di sisi penguasa dan yang lainnya.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Kamis, 25 November 2021

Kerusakan Besar

Asy-Syaikh Al-Imam yang mulia Al-Ustadz Burhanuddin, penulis kitab Al-Hidayah melantunkan syair dari seorang ulama,

Termasuk kerusakan besar, orang alim yang serampangan,

lebih rusak lagi darinya adalah seorang bodoh yang ahli ibadah.

Keduanya menjadi fitnah yang besar bagi bagi alam semesta,

yaitu bagi orang yang menjadikan kedua orang itu sebagai panutan dalam urusan agama.

Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu mengatakan suatu perkataan yang kandungannya semakna, "Dua orang laki-laki yang menimpakan bencana kepadaku: seorang alim yang tidak tahu malu dan orang bodoh yang beribadah."


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Rabu, 24 November 2021

Fardhu

Mempelajari hal-hal yang terjadi pada saat tertentu saja hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu negeri sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari kewajiban. Akan tetapi jika di negeri tersebut tidak ada yang mempelajarinya, maka semua orang menanggung dosa. Seorang imam harus memerintahkan dan boleh memaksa penduduk negeri tersebut untuk mempelajarinya.

Dikatakan bahwa mempelajari hal-hal yang wajib dilakukan oleh seseorang dalam semua kondisinya ini ibarat makanan yang semua orang harus menyantapnya. Sedangkan mempelajari hal-hal yang bersifat fardhu kifayah ibarat obat yang dibutuhkan pada sebagian waktu saja.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji


Selasa, 23 November 2021

Sarana

lmu adalah sarana untuk mengetahui segala hal, seperti kesombongan, tawadhu, keramahan, menjaga kesucian diri, berlebih-lebihan, bakhil, dan sebagainya. Demikian pula seluruh akhlak, seperti kemurahan hati, kikir, penakut, dan keberanian.

Adapun sombong, kikir, pengecut, dan berlebih-lebihan hukumnya haram. Tidak mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat jelek tersebut kecuali dengan jalan mengetahui kriteria sifat-sifat tersebut dan cara menghilangkannya. Maka setiap orang harus mengetahuinya.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Senin, 22 November 2021

Ilmu, Kebajikan, dan Ketakwaan

Ilmu memiliki keutamaan karena ia menjadi perantara kepada kebajikan dan ketakwaan. Dengan ketakwaan, manusia memperoleh kedudukan yang luhur di sisi Allah dan kebahagiaan abadi.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Minggu, 21 November 2021

Keutamaan Ilmu

Tidak seorang pun yang meragukan keutamaan ilmu, karena ilmu itu hanya dimiliki oleh umat manusia. Adapun tabiat selain ilmu bisa saja dimiliki oleh manusia maupun semua binatang, misalnya keberanian, kekuatan, kemurahan, belas kasih, dan yang lainnya.

Dengan ilmu, Allah menampakkan kelebihan Adam 'alaihis sallam atas malaikat sehingga memerintahkan mereka untuk bersujud kepadanya.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Sabtu, 20 November 2021

Mencari Ilmu

Setiap Muslim diwajibkan mencari ilmu yang berkaitan dengan kondisi yang dia hadapi, dalam kondisi apapun. Misalnya seseorang wajib mengerjakan shalat, maka wajib baginya mengetahui hal-hal yang harus dia lakukan dalam shalat sekira dengan hal tersebut bisa menjalankan kefardhuan shalat. Dia juga harus mengetahui hal-hal yang menjadi tuntutannya, sekadar pengetahuan yang bisa untuk melaksanakan kewajiban. Sebab, hal-hal yang menjadi wasilah ditegakkannya hal-hal yang difardhukan maka wasilah tersebut menjadi fardhu, dan hal-hal yang menjadi wasilah ditegakkannya kewajiban maka wasilah tersebut menjadi wajib.

Demikian pula dalam hal puasa, zakat jika dia mempunyai harta, dan haji jika memiliki kemampuan. Sama halnya dalam urusan jual beli jika dia berdagang.

Demikian pula dalam semua muamalah dan profesi. Setiap orang yang berkecimpung di dalamnya harus mengetahui hal-hal yang bisa menjaga dirinya dari sesuatu yang diharamkan.

Seseorang juga harus mengetahui ilmu yang berkaitan dengan hati, misalnya tawakal, taubat, khasyyah (takut), dan ridha. Sebab, semua hal tersebut terjadi pada semua keadaan.


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Jumat, 19 November 2021

Ilmu Hal

Ketahuilah bahwa tidak diwajibkan bagi setiap Muslim untuk mencari semua ilmu. Akan tetapi yang diwajibkan atasnya adalah mencari ilmu hal, sebagaimana dikatakan, "Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal (ilmu yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari sebagai seorang Muslim, seperti ilmu tauhid, akhlak, dan fikih).


Sumber: Ta'lim Al-Muta'allim, Burhanul Islam Az-Zarnuji

Tekun

Dikatakan dalam sebuah syair: Janganlah tergesa-gesa dalam urusanmu, tapi tekunilah ia. Tidak ada yang meluruskan tongkatmu menyamai orang y...